Hujan Mujizat dalam hidupku
GKI - Info Umum

 

 

HUJAN MUJIZAT DALAM HIDUPKU

Kesaksian Eveline Sinambela


Tiga puluh dua tahun saya lahir sebagai bayi normal yang cantik, sehat dan gemuk.  Tidak ada kelainan pada tubuh saya.  Namun ketika berusia 11 tahun saya mulia menjalani kehidupan yang cukup berat.  Saya dinyatakan menderita penyakit yang belum ada obatnya yaitu : Limfoma maligna hodgin dengan sub penyakit sezary syndiom. Penyakit ini cukup langka dan saya diketahui sebagai pasien pertama di Indonesia.

Tahun 1986 saya masuk SMP dengan kondisi fisik yang terbatas dan tidak memungkinkan untuk bnayak bergerak.  Kalau teman-teman saya sebaya saya bisa bebas beraktifitas dan bercanda dengan ceria, saya sangat mudah lelah.  Di SMA keadaan tubuh saya tidak semakin membaik, saya tetap tidak bisa kecapean.  Saya sering keluar masuk RS bahkan tak jarang saya harus mengerjakan soal-soal ujian dengan tangan diinfus.  Namun itu semua tidak menghalangi saya untuk terus belajar memahami kehadiran, kasih saying dan kuasa Tuhan.  Pada prosesnya saya menyadari kasih-Nya senantiasa menopang kehidupan saya sehingga saya dimampukan menjalani dan menghadapi penyakit ini.  Sebagai mahasiswa di UKI, ada saatnya saya harus menjalani kuliah di lantai 3.  Pada waktu itu belum ada lift sehingga mau tidak mau saya harus naik tanga ke lantai 3.  Tadinya saya bingung bagaiman mungkin saya kuat ? Akhirnya sambil menapak tangga satu persatu saya mengingat lagu "Jalan serta Yesus".  Lagu itulah yang membuat saya mampu naik tangga ke lantai tiga.  Namun sering sesampai ke lantai tiga saya begitu kelelahan sehingga hanya mampu mengikuti satu mata kuliah saja dalam sehari.

Perjalanan penyakit ini sempat mendapat remisi (istilah kedokteran) yang artinya istirahat.  Maksudnya secara medis saya dinyatakan sehat.  Memang pernah saya rasakan kondisi saya benar-benar sehat, tidak ada keluhan.  Namun kurang lebih empat tahun terakhir ini penyakit saya timbul kembali.  Diawali dengan kondisi tubub yang saya rasakan lemas luar biasa, lemas dan letih sampai pada saat saya kontrol ke dokter, saya harus diopname.  Selama opname saya kembali melalui berbagai pemeriksaan seperti yang dulu pernah saya jalani.  Dari hasil pemeriksaan kali ini dokter menyatakan tulang punggung bagian ekor saya mengalami kerapuhan.  Jalan keluar untuk penyembuhannya adalah dengan operasi.  Namun dokter yang menangani juga merasa berat karena prosentase keberhasilan operasi ini nantinya hanya50%.  Sementara bila tidak di operasi kemungkinan saya akan mengalami kelumpuhan.

Saya sempat shock mendengarnya.  Jujur pada saat itu saya tidak dapat menerima kenyataan ini.  Saya katakana hal ini pada Tuhan dan juga pada dokter yang selama ini merawat saya.Berhari-haru saya menangis kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak sanggup menjalani kelumpuhan kalau itu terjadi dalam hidup saya.  Saya makin tidak bisa bergerak bebas.  Saya sadar tidak bisa mlayani Engkau, Tuhan, dengan kekuatan dan kemampuan saya.  Namun kalau Tuhan ijinkan kelumpuhan terjadi dalam hidup saya, bagaimana saya dapat melayani Tuhan ? Saya masih ingin melayani Engkau melalui adik-adik sekolah minggu saya, lewat adik-adik asuh saya.  Tuhan, jika Engaku menghendaki dengarlah permohonan, keinginan saya, tolong Tuhan, tunjukanlah mujuzat-Mu, kuasa-Mu, supaya kelumpuhanh itu tidak terjadi dalam hidup saya.  Saya serahkan keinginan saya ini hanya ke dalam tangan kasih Tuhan, saya percaya Tuhan memberikan yang terbaik buat saya".

Itulah doa permohonan saat saya sakit.  Puji Tuhan, saya mendapat kekuatan dari Tuhan untuk menjalani kelumpuhan yang terjadi selama beberapa saat.  Dalam rapat keluarga, saya meminta teman-teman dari sekolah minggu bersama Pdt. Tohom untuk dapat sama-sama mengadakan renungan / kebaktian buat saya.  Saya sangat terharu dengan kasih Tuhan yang terus menerus ada dalam hidup saya.  Saya sungguh mengasihi kasih Tuhan, kuasa Tuhan.  Saya imani kalau memang Tuhan mengijinkan saya untuk tetap dapat melayani tanpa kelumpuhan, Tuhan akan bertindak, Tuhan akan bukan jalan.  Dan itu benar-benar nyata terjadi dalam hidup saya.  Apa yang saya alami kali ini benar-benar mengherankan, bukan hanya bagi saya tapi juga bagi semua dokter yang selama ini merawat saya.  (Selain dokter yang selama 18 tahun merawat saya, ada juga satu tim dokter lain yang terdiri dari dojter hermatologi (Kanker), dokter darah, dokter tulang, dikter saraf dan gigi.  Mereka secara terus-menerus bekerja sama dan membantu kondisi penyakit saya.

Mujizat terus saja terjadi dan dating dalam kehidupan saya, dalam sakit penyakit yang saya alami ini.  Seperti salah satunya saat saya roentgen paru-paru, Dokter menyatakan bahwa penyakit saya sudah menyebar diparu-apru kanan saya.  Dokter sampai bingung karena sampai 5 tahun terakhir ini saya selalu rutin roentgen setiap 6 bulan sekali, selain saya termasuk pasien yang rajin kontrol untuk setiap permeriksaan sehubungan dengan penyakit saya.  Saya diminta untuk rontgen ulang dan hasilnya sama, 75% paru-paru kanan saya memang sudah terinfeksi.  Dokter tetap tidak yakin sehingga saya diminta untuk mengikuti scan paru-paru.  Dan hasilnya ? Puji Tuhan, paru-paru saya dinyatakan bersih !! Tidak ada penyakit dalam paru-paru saya.  Saya menyadari ini semua karena kuasa Tuhan, Kasih Tuhan.  Tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Tuhan punya rencana.  Tuhan punya maksud buat kita semua termasuk buat saya. Dokter saja menjadi bingung, dan sangking bingungnya ia bilang, "Mungkin Tuhan masih mau pakai kamu, Eveline.  Masih banyak pekerjaan yang masih harus kamu lakukan".  Saya jawab hanya dalam hati, pakailah saya, Tuhan, didalam keterbatasan kesehatan saya, jika Engkau masih mau memakai saya dalam hidup saya ini walaupun saya harus menanggung sakit penyakit ini.  Saya percaya bahwa Tuhan akan memakai saya dengan luar biasa karena Tuhan punya maksud dan rencana yang indah.

Pergumulan saya soal kerapuhan tulang belakang akhirnya dijawab Tuhan.  Tuhan membuka jalan dan mengijinkan saya untuk dapat melayani Tuhan.  Puji Tuhan, saya tidak jadi menjalani operasi tulang walau waktu itu operasi dinyatakan dokter sebagai satu-satunya jalan keluar walau dengan resiko tinggi.  Sebagai ganti operasi, saya harus menggunakan korset punggung setiap saat kecuali saat tidur dan mandi.  Saya menyebutnya sebagai "jaket anti peluru".  Berat rasanya buat saya memakai alat ini.  Pada awalnya saya akui saya sempat minder dan malu sama teman-teman saya.  Tapi saya lalu teringat akan perjalanan hidup Tuhan Yesus, sungguh, salib yang saya pikul tidak seberapa dengan apa yang dialami Tuhan.

Waktu berjalan, beban penyakit yang saya alami belum selesai.  Dokter menyatakan bahwa penyakit ini telah menyebar ke mata kiri saya. Sebelumnya memang saya rasakan bahwa mata saya semakin hari-semakin kabur seperti melihat embun.  Sebelumnya oleh dokter mata diketahui adanya selaput katarak yang mengganggu penglihatan saya dan saya dianjurkan untuk operasi katarak guna menggantikan lensa mata saya denga lensa buatan .  Lagi-lagi saya menangis kepada Tuhan, "Tuhan, jikalau Tuhan ijinkan kedua mata saya buta, sya merasa tidak dapat berbuat apa-apa lagi.  Saya sangat sedih, Tuhan saya masih ingin sekali  melayani Engkau.  Engkau selama ini begitu baik kepada saya.  Mujuzat-mujizat terus terjadi dalam hidup saya, dan saya terus merasakan berkat-berkat Mu ya Tuhan.  Tuhan, kalau Tuhan ijinkan kelumpuhan maka walau duduk  di kursi roda, saya masih bisa melakukan sesuatu  walau sesekali harus dibantu orang lain.  Tapi dengan kebutsan, untuk mengambil air minum pun saya harus  bergantung pada orang lain.  Bagaimana saya dapat bercerita tentang Engkau di depan adik-adik sekolah minggu, bagaimana saya dapat memimpin puji-pujian di depan mereka kalau saya buta ? Tuhan, kuatkanlah saya .......".  itulah pergumulan dan doa saya walau akhirnya Tuhan tetap mengijinkan kebutaan mata kiri saya terjadi.  Sebagai manusia, timbul lagi perasaan sedih, kecil hati, dan minder pada teman-teman.  Saya bahkan sempat merubah jam kebaktian saya, yang biasanya pagi jam 08.10, 5 sore atau kebaktian pemuda 7 malam, menjadi jam 6 pagi.  Mengapa ? Karena di jam kebaktian itu belum banyak teman-teman saya yang hadir dan melihat keadaan saya.

Namun saya tidak membiarkan rasa minder itu membelenggu saya.  Saya kembali melayani di sekolah minggu.  Sementara itu Tuhan tidak berhenti mencurahkan berkat dan melakukan mujizat pada saya.  Buat saya, mujizat tidak selalu berarti kesembuhan.  Berkat Tuhan tidak selalu sesuatu yang menyenangkan.  Didalam keterbatasan kesehatan yang saya alami, Tuhan terus memampukan, menguatkan dan menghibur saya di kala sedih.  Di saat saya mau mengajar  sekolah minggu saya mendapat kekuatan dari Tuhan, saya mendapat kemampuan dan Roh Kudus.  Itulah berkat yang Tuhan berikan kepada saya.  Saya sangat bersyukur mempunyai Tuhan yang begitu baik, Tuhan yang penuh kasih.

Saya ingin mendapat sesuatu yang luar biasa dari Tuhan untuk dapat membuktikan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan bahwa mujizat Tuhan itu ada.  Mujizat Tuhan itu bisa terjadi jika kita menyerahkan kehidupan kita sepenuhnya pada Tuhan.  Jadi dalam hidup saya dengan segala sakit penyakit yang Tuhan ijinkan, tidak ada kata menyerah.  Saya harus bisa melawan penyakit dengan minta pertolongan kuasa dan kasih Tuhan menjalani hidup ini dengan  apa adanya.  Kita jangan mau dikuasai penyakit.  Penyakit ada atas ijin Tuhan untuk perbaikan karakter kita untuk bisa menjadi  serupa dengan Allah.  Pasti Tuhan akan beri kemampuan dan kekuatan luar biasa dalam  tubuh dengan organ-organ yang mulai rusak.

Dari hasil pemeriksaan berakhir dokter menyatakan kerusakan pada organ-organ tubuh seperti lambung, tulang iga, paru-paru kanan, otak belakang yang mengecil dan mata kiri yang tidak dapat berfungsi lagi.  Dengan kuasa Tuhan organ-organ tubuh diperbaharui hari demi hari karena saya tidak merasakan apa-apa dengan organ-organ yang rusak tersebut.  Itulah mujizat yang Tuhan berikan  dalam kehidupan saya.  Dalam II Korintus 4 : 16 Tuhan melalui Paulus mengatakan, terutama kepada saya, "Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.  "Yang sakit tubuh bukan jiwa jadi tetap bersyukurlah kepada Tuhan.  Dalam kesehatan saya yang amat terbatas ini Tuhan masih memampukan saya, Tuhan masih menguatkan saya.  Itu semua karena kasih Tuhan.

Inilah saudara-saudara bahwa mujizat tuhan itu memang ada.  Ada sampai sekarang dan selama-lamanya jika kita mau mengimaninya dengan sepenuh hati.  Tiada yang mustahil bagi Allah.  Walaupun kondisi kesehatan saya makin terbatas saya ingin tetap terus melayani Tuhan ditengah adik-adik sekolah minggu, ditengah-tengah adik-adik asuh, dan dimana saja Tuhan mau pakai saya.  Pelayanan yang Tuhan percayakan disekolah minggu selama kurang lebih 12 tahun dan ditempat-tempat lain tidak seberapa dibanding dengan cinta kasih  Tuhan dalam hidup saya.  Saya sangat-sangat bersyukur sekali.  Setiap saya mau mengajar sekolah minggu, saya berdoa minta kemampuan dan kekuatan dari Tuhan.  Dan setelah berdoa selalu saya merasakan ada suara Tuhan yang menguatkan  dalam 1 Timotius 1 : 12 "Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap  aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku".  Firman Tuhan inilah yang membuat saya semakin semangat, semakin ingin terus melayani Tuhan.  Satu lagi penyemangat saya, seperti yang Paulus alami dalam Kis. 20:24 "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.  Lagi-lagi saya ingin terus mengucap syukur kepada Tuhan karena kasih karunia Tuhan berlimpah dalam keterbatasan kesehatan saya.  Tuhan masih memperkenankan saya dengan memakai saya untuk dapat melayani Tuhan.  Terimakasih Tuhan, Engkau begitu baik pada saya.  Saya percaya, kalau Tuhan mau pakai saya, ada maksud Tuhan, ada rencana Tuhan yang indah, yang luar biasa dalam kehidupan saya.  Tuhan juga berfirman  pada saya, pada kita semua dalam II Korintus 12 : 9 "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna".  Di sini Dia mau menyatakan bahwa dalam tubuh saya, Tuhan ingin menyatakan kuasa-Nya.  Tuhan ingin menyatakan mujizat-Nya.  Tuhan ingin menyatakan berkat-berkat-Nya.  Semua itu ada dan bisa terjadi kalau kita mau mengimaninya.  Terpujilah nama Tuhan.

Salah satu kesenangan saya adalah menyanyi, dan iman saya makin dikuatkan oleh lagu-lagu pujian yang saya nyanyikan setelah berdoa minta kekuatan  untuk mengajar sekolah minggu.  Dalam sakit saya ini ada syair lagu yang saya ciptakan dengan judul "Tuhan Yesus pasti Menolong".  Lagu ini dinyanyikan  dengan nada lagu Kidung Jemaat 408 (Di Jalanku ku diiring).  Begini lagunya : Meski berat tugas ini, tapi Yesus Tuhanku, pastilah akan memolong dengan pelayananku, namun aku percaya, tugas ini datangnya dari Dia yang memakai aku yang lemah ini, Dari Yesus yang memakai evi yang lemah ini.

Kita semua termasuk saya secara pribadi tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.  Namun saya mengetahui dengan pasti, dengan iman dan keyakinan yang penuh bahwa hari depanku ada dalam tangan Tuhan Yesus.  Ia selalu hadir dalam hati untuk menguatkan saya menghadapi masalah apapun, dan ia menaruh damainya di hati ini.

Terkadang kita melihat Allah seolah-olah lambat dalam menyelesaikan  persoalan yang kita bawa kepadaNya.  Namun yang pasti, Ia yaitu Tuhan Allah selalu bekerja dengan cara-Nya yang tidak kita pahami.  Janganlah menghabiskan waktu dan memboroskan tenaga untuk menyesali diri atas keadaan yang kita miliki.  Kekurangan yang kita miliki, apapun itu bukan alasan untuk berkecil hati dan merasa tidak berarti di dunia ini.  Itu hanya akan membuat kita menyalahkan Tuhan dan menyia-nyiakan hidup.  Yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup anak-anakNya selalu ada sisi baik dan positifnya, untuk membawa kita lebih dekat, lebih setia, yang lebih cinta kepada TuhanYesus sehingga lebih berharap dan bersandar kepada-Nya Firman Tuhan dalam Yeremia 7 "Diberkatilah orang yang mengandalkan  Tuhan, yang menaruh pengharapannya kepada Tuhan, terpujilah nama Tuhan".

Sampai disini kesaksian hidup saya.  Semoga kesaksian saya tentang hidup yang Tuhan ijinkan diisi dengan penyakit ini boleh menjadi berkat bagi setiap orang membacanya.  Sungguh, saya merasakan berkat Tuhan sangat hebat dalam kehidupan saya hingga detik ini.

Pesan saya, jangan sia-siakan waktu yang Tuhan berikan.  Berikan yang terbaik buat Tuhan bersinarlah, terus untuk Tuhan, dimana pun kita berada.  Lakukanlah kebaikan dimanapun, bagaimanapun dan untuk siapapun semampu kita.

 

 
" Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. "

Ayub  5 : 17