Calendar Selasa, September 02, 2014
Text Size
   
Sejarah GKI Kebayoran Baru
GKI - Organisasi

SEJARAH GKI Kebayoran Baru

Sejarah GKI

Pada pertengahan abad XIX timbullah semangat dan perhatian yang baru di Eropa untuk tugas-tugas Pekabaran Injil sehingga lahirlah Badan-badan Zending di luar negeri. Di Jakarta pun timbul semangat baru untuk Pekabaran Injil sebagai suatu reaksi atas kelesuan Gereja Protestan yang ada pada waktu itu.

Salah satu badan Zending dari Gereja-gereja Gereformeed di Belanda, melayani Gereja-gereja yang berbahasa Jawa dengan memberikan dorongan dan bimbingan juga kepada orang-orang Kristen Tionghoa agar membentuk Gerejanya sendiri yang berbahasa Melayu.

Pada tahun 1933 terbentuklah Gereja Kristen Tionghoa yang pertama di Sala Sangkrah, Magelang.

Badan Zending dari Gereja-gereja Gereformeed di Belanda, juga melayani di Jakarta dan membentuk Gereja Gereformeed di Jakarta, yaitu Jl. Kwitang 28 (yang kemudian menjadi GKI Kwitang) yang pada waktu itu masih menggunakan Bahasa Belanda sebagai pengantar, dan kemudian memakai bahasa Melayu.

Beberapa pandangan pokok Zending Gereformeed:

* Tujuan utama dari Pekabaran Injil untuk memuliakan nama Allah dan    pembentukan jemaat Kristen. Inilah yang disebut "hoofddienst" (tugas utama). Usaha-usaha lain di bidang sosial dan pendidikan dipandang sebagai "alat" Pekabaran Injil yang melayani "hoofddienst" tersebut

*  Usaha Pekabaran Injil, adalah tugas "Gereja Setempat", bukan suatu perkumpulan. Gereja setempat di Belanda berhubungan langsung dengan Gereja setempat di Jawa dalam rangka kerjasama.

Pandangan theologis pada umumnya bersifat Calvinistis yang keras. Kemudian pengajaran yang didasarkan Alkitab sebagai firman Allah. Tata Gereja dengan peraturan hal siasat, kerapian di bidang organisasi Gereja Zending dipegang teguh; Gereja setempat dipandang sebagai Gereja yang dewasa dan berdiri sendiri, di bawah sebuah Majelis Gereja yang berdaulat penuh.

Pada 7-8 Agustus 1945 di Magelang, dilakukan pertemuan Sinode I dan diproklamirkan berdirinya Sinode Gereja-gereja Kristen Indonesia Jawa tengah, di mana Gereja Gereformeerd Jakarta termasuk bagian di dalamnya. Dalam Sinode I tersebut telah ditetapkan dasar-dasar Sinode sebagai berikut:

"...bahwa Sinode menegaskan pengakuan percaya atas kitab Suci, Perjanjian Lama dan Baru sebagai firman Allah dan 12 Pengakuan Kepercayaan seturut keterangan Catechismus Heidelberg, sedang aturan Gereja didasarkan atas bentuk pemerintahan Gereja Presbyterial" (Acte Sinode I, art.9).

Gereja-gereja Kristen Indonesia kemudian menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya.

Sebagaimana dengan gereja Tionghoa lainnya, pada awalnya nama gereja ini adalah “Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH)”. Kemudian pada tahun 1936 gereja yang terbentuk di Jl. Kwitang 28 Jakarta, bergabung dengan THKTKH ini, meski jemaatnya berasal dari berbagai etnik. Selain di Jawa Tengah, gereja berbasis masyarakat Tionghoa ini lahir juga di Jawa Timur pada tanggal 22 Februari 1934, dan di Jawa Barat pada tanggal 24 Maret 1940. THKTKH Jawa Tengah berubah namanya pada Sinode I tanggal 7-8 Agustus 1945 di Magelang menjadi GKI Jawa Tengah. Demikian pula halnya dengan gereja Tionghoa di kedua wilayah lainnya dengan nama GKI Jawa Timur dan GKI Jawa Barat. Upaya menyatukan ketiga gereja menjadi dalam Sinode Am Gereja Kristen Indonesia telah digalang sejak tanggal 27 Maret 1962. Berdasarkan kesepakatan kemudian, maka pada tanggal 26 Agustus 1988 ketiga gereja tersebut menyatakan diri sebagai satu gereja dengan nama Gereja Kristen Indonesia.

Tanggal 26 Agustus 2003 di seluruh aras Gereja Kristen Indonesia, diberlakukan Tata Gereja GKI untuk menandai penyatuan Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat, Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah dan Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur menjadi Gereja Kristen Indonesia.

Benih yang Ditanam – GKI Kebayoran Baru

Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (Matius 13:32).

Dalam pertumbuhan GKI Kwitang di Jakarta pada era tahun 1950-an, sebagian jemaatnya berdiam di kota satelit Kebayoran yang mulai dibuka saat itu untuk pemukiman. Dimulai dengan persekutuan-persekutuan rumah tangga di wilayah Kebayoran ini, maka GKI Kwitang secara resmi membentuk Pos Kebaktian pada tahun 1956 dengan lokasi peribadatan yang berpindah-pindah di rumah jemaat, kemudian di Sekolah PSKD Jl. Bulungan.

Akhirnya pada tanggal 25 Februari 1962, GKI Kebayoran Baru diresmikan sebagai jemaat dewasa yang berdiri sendiri, dengan memakai gedung PSKD di Jl. Panglima Polim Jakarta Selatan hingga saat ini.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 25 Februari 1965, Bapak Pdt. Dr. J.H. Wirakotan ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat pertama di gereja ini yang kemudian diikuti oleh Pendeta lainnya sesuai dengan kebutuhan jemaat.

Tanggal 7 September 2002 GKI Kebayoran Baru telah menetapkan Visi dan Misi jemaat GKI Kebayoran Baru yang akan diberlakukan tahun 2003 - 2009. Penyusunan Visi dan Misi tahun 2009 – 2015 sedang dalam perumusan dan rencananya disahkan pada awal tahun 2009.

Benih yang Bertumbuh

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, - yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayan semua bagiannya, sesuai dengan kadar perkerjaan tiap-tiap anggota - menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Efesus 4:16)

Dalam pertumbuhannya, GKI Kebayoran Baru juga telah menanam benih yang bertumbuh sbb:

  • Nopember 1974 Peresmian Pos Kebaktian Minggu GKI Kebayoran Baru di Bintaro.
  • Tahun 1978 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Serpong.
  • Tanggal 27 Agustus 1978 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Bintaro menjadi Cabang Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Oktober 1978 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Trogong (sekarang GKI Pondok Indah).
  • Tanggal 28 Januari 1979 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Parung.
  • Tanggal 29 Oktober 1981 Peresmian Pendewasaan Cabang Jemaat GKI Kebayoran Baru di Bintaro menjadi GKI Bintaro.
  • Tanggal 25 Pebruari 1982 tepat pada 20 tahun jemaat GKI Kebayoran Baru, diresmikan Cabang Jemaat GKI Kebayoran Baru di Kebayoran Selatan.
  • Tanggal 20 Juni 1984 Peresmian Pendewasaan Cabang Jemaat GKI Kebayoran Baru di Kebayoran Selatan menjadi GKI Kebayoran Selatan (sekarang GKI Pondok Indah).
  • Tanggal 8 Desember 1985 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Pondok Karya.
  • Tanggal 12 Juni 1988 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Petukangan Selatan Jl. Merpati I/18.
  • Tanggal 14 Juni 1989 Peresmian Bakal Jemaat (Cabang) GKI Kebayoran Baru di Serpong.
  • Tanggal 24 September 1989 Peresmian Pos Kebaktian Minggu di Pamulang Permai.
  • Tanggal 29 Mei 1990 dilakukan peletakan Batu Utama pembangunan Gedung Gereja GKI Puspiptek Serpong, sebagai tanda dimulainya pembangunan Gedung Gereja tersebut.
  • Tanggal 18-22 Maret 1990 Bakal Jemaat Serpong disetujui Sinode untuk didewasakan menjadi Jemaat yang dewasa dan mandiri, dengan nama GKI PUSPIPTEK SERPONG. Pada saat yang sama mengukuhkan Pos Kebaktian Merpati menjadi Bakal Jemaat Merpati.
  • Tanggal 2 Juni 1991 Pendewasaan GKI Kebayoran Baru Bakal Jemaat Serpong, menjadi GKI PUSPITEK Serpong.
  • Tanggal 25 Agustus 1991 Peresmian Pos Kebaktian Merpati menjadi Bakal Jemaat Merpati.
  • Tanggal 1 Agustus 1993 Peresmian Pos Kebaktian Pamulang menjadi Bakal Jemaat Pamulang.
  • Tanggal 6 November 1994 Peresmian Pos Kebaktian IIP-Ampera menjadi Bakal Jemaat IIP-Ampera.
  • Tanggal 23 September 1995 Pendewasaan GKI Kebayoran Baru Bakal Jemaat Pamulang, menjadi GKI PAMULANG.
  • Tanggal 30 April 2000 Peresmian Pos Gunung Sindur.
  • Tanggal 5-7 Juni 2000 Persidangan XIV Majelis Klasis GKI Jawa Tengah Klasis Jakarta II telah memutuskan untuk menyetujui usul GKI Kebayoran Baru agar Bakal Jemaat IIP Ampera dan Bakal Jemaat Merpati didewasakan menjadi Jemaat yang dewasa dan mandiri, dengan nama GKI Ampera dan GKI Ciledug Raya.
  • Tanggal 4 November 2000 Pendewasaan GKI Kebayoran Baru Bakal Jemaat IIP Ampera, menjadi GKI Ampera.
  • Tanggal 21 Januari 2001 Pendewasaan GKI Kebayoran Baru Bakal Jemaat Merpati, menjadi GKI Ciledug Raya.

Pemanggilan, Penahbisan, dan Emeritasi Pendeta

  • Tanggal 25 Februari 1965, Bapak Pdt. Dr. J.H. Wirakotan ditahbiskan sebagai Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru
  • Tanggal 1 September 1971 dilakukan penahbisan Bapak KG. Hamakonda menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tahun 1973 Pengutusan Pdt. JH. Wirakotan menjadi Wakil Sekretaris Umum Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) sebagai Pendeta utusan GKI Jawa Tengah.
  • Tanggal 1 September 1977 dilakukan penahbisan Sdr. MA Christian menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 19 Juli 1979 dilakukan peneguhan Pdt. Christian Tarigan menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 30 Agustus 1984 dilakukan peneguhan Pdt. Lydia Zakaria menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 28 Agustus 1985 dilakukan peneguhan Pdt. JH. Wirakotan, dalam rangka penerimaan kembali dalam tugas pelayanannya sebagai pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 9 Oktober 1996 Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru melakukan Kebaktian Emeritasi Pdt. JH. Wirakotan.
  • Tanggal 25 Februari 1998 dilakukan peneguhan Pdt. Lazarus Hendro Purwanto menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 1 September 1999 dilakukan penahbisan Pdt. Willem Amos Titaheluw menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 1 Oktober 1999 Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru melakukan Kebaktian Emeritasi Pdt. KG. Hamakonda.
  • Tanggal 9 Februari 2000 Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru melakukan Kebaktian Emeritasi Pdt. Lydia Zakaria
  • Tanggal 1 September 2000 dilakukan penahbisan Tt. Woro Indyas Adrianta Dewi menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 1 September 2000 dilakukan penahbisan Tt. Marfan Ferdinanda Tahamata menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 20 April 2001 Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru melakukan Kebaktian Emeritasi Pdt. Christian Tarigan
  • Tanggal 1 September 2001 dilakukan penahbisan Tt. Lily Ziane Jacobs menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 1 September 2001 dilakukan penahbisan Tt. Tohom Tumpal Marison Pardede menjadi Pendeta Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 21 Desember 2002 dengan penuh kesedihan, GKI Kebayoran Baru telah kehilangan seorang pendeta yang pernah melayani dengan setia jemaat ini dalam diri Pendeta Emeritus Christian Tarigan yang meninggal dunia dan dimakamkan pada tanggal 23 Desember 2002.
  • Tanggal 7 Februari 2003 dilangsungkan peneguhan dan pemberkatan nikah Pdt. Marfan F. Tahamata dan sekaligus menjadi isteri pendeta GPIB yang melayani di jemaat GPIB Maranatha Sanggau Kalimantan Barat, dengan demikian Pdt. Marfan F. Tahamata meninggalkan jemaat GKI Kebayoran Baru dan berdomisili di Kalimantan Barat.
  • Tanggal 25 Februari 2003 dalam Kebaktian Syukur 41 tahun jemaat GKI Kebayoran Baru, diutus untuk menjadi Wakil Sekretaris Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI masa pelayanan 2002 - 2006 dalam diri Pdt. Lazarus H. Purwanto. Dalam Kebaktian Syukur ini juga sekaligus Pdt. Lazarus H. Purwanto diteguhkan menjadi Pendeta Tugas Khusus Sinode GKI dan dilakukan pelantikan BPMS GKI masa pelayanan 2002 - 2006.
  • Tanggal 1 September 2004 Peneguhan Pdt. Titus Gunawan Hendriyanto sebagai Pendeta GKI dengan basis pelayanan di Jemaat GKI Kebayoran Baru.
  • Tanggal 24 Oktober 2005, GKI Kebayoran Baru kembali kehilangan seorang pendeta yang pernah melayani dengan setia jemaat ini dalam diri Pendeta Willem Amos Titaheluw yang meninggal dunia dipanggil Tuhan kepangkuan-Nya dan dimakamkan pada tanggal 26 Oktober 2005.
  • Tanggal 3 Desember 2005 kembali GKI Kebayoran Baru dengan penuh kedukaan kehilangan seorang pendeta yang pernah melayani dengan setia jemaat ini dalam diri Pendeta Emeritus Lydia Zakaria yang meninggal dunia dan dikremasikan pada tanggal 6 Desember 2005.
  • Tanggal 11 Nopember 2008 Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru melakukan Kebaktian Emeritasi Pdt. M.A. Christian.


Melanjutkan Untuk Tetap Tumbuh

Dari segudang pengalaman hidup berjemaat di mana Allah selalu memberi pertumbuhan bagi jemaat milikNya itu, haruslah menjadikan jemaat ini makin merendahkan hati untuk terus menyerahkan diri, dalam kesediaannya untuk dipakai sebagai alatNya yang hidup untuk memberitakan InjilNya bagi dunia ini.

Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat... (Ibrani 10:32).

Terima kasih. Tuhan memberkati.

 

 
" Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. "

Filipi 4:6