Media
PENGUMUMAN
| MENGUCAP SYUKUR KARENA DIPULIHKAN |
| Kebaktian - Renungan |
|
Minggu, 05 Februari 2012
(1 Petrus 2 : 1 - 10)
Tidak terlalu sulit untuk mengatakan bahwa kita mengucap syukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah melakukan sesuatu buat kita. Gampang juga buat kita untuk menyatakan, bahwa kita tidak mengucap syukur kepada Tuhan supaya Tuhan berbuat sesuatu untuk kita. Karena itu, jelas pula dalam bacaan kita kali ini, bahwa mengucap syukurnya kita kepada Tuhan adalah karena Allah sudah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib, sehingga kita yang dahulu bukan umat Allah, sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani sekarang telah beroleh belas kasihan. Pendek kata, kita mengucap syukur kepada Allah karena tindakan pemulihan-Nya bagi kita sehingga kita menjadi "bangsa yang terpilih, imamat yang rajawi, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri".
Yang jauh lebih sulit adalah bagaimana mewujudkan ucapan syukur kita itu secara konkret dalam kehidupan kita. Tema-tema renungan kita selama ini tidak habis-habisnya mengemukakan hal ini. Tema kita kali ini pun sekali lagi mengajak kita merenungkannya untuk memperkaya pemahaman dan penghayatan kita. Banyak segi dapat digali dari bacaan kita, namun perhatian kita marilah kita tujukan pada bagaimana kita "memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari DIA [yaitu Allah yang sudah memulihkan kita itu]" dalam kehidupan kita.
Mengapa sulit bagi kita untuk mewujudkan ucapan syukur? Ucapan syukur itu kan respons kita terhadap tindakan pemulihan Allah dalam hidup kita. Lha kita sudah mengalami pemulihan Allah itu, atau belum? Semoga tidak ada yang mengatakan "belum" sama sekali, karena sebenarnya pemulihan Allah adalah sebuah proses yang terus menerus dalam dan sepanjang hidup kita. Tidak ada satu titik atau momen pun dalam hidup ini yang di dalamnya kita bisa dan boleh menyatakan, "Aku sudah 100% dipulihkan oleh Allah". Justru dalam proses seperti itu, interaksi kita dengan Allah, Sang Pemulih Kehidupan, menjadi luar biasa penting. Ucapan syukur sebagai bentuk respons Saudara terhadap apa yang sudah Saudara alami berhubungan dengan tindakan pemulihan Allah, betapapun sederhananya, akan pada gilirannya memacu dan memperkuat proses pemulihan dari Allah itu sendiri. Boleh dikatakan, dalam tindakan pemulihan-Nya terhadap Saudara, Allah bekerja sama dengan Saudara.
Karena itu, beritakanlah perbuatan-perbuatan besar Allah yang memulihkan kehidupan ─yang sudah Saudara alami sendiri─ justru melalui kehidupan Saudara! Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara bertanya tentang kehidupan Saudara secara antitesis, dengan beberapa contoh saja. Apakah Saudara memakai mulut Saudara untuk memfitnah orang lain? Apakah Saudara memakai tangan dan kata-kata Saudara untuk melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) terhadap istri, atau suami, atau anak, atau orang tua, Saudara? Apakah Saudara memakai pikiran Saudara untuk merancang hal-hal yang menyebarkan teror dan merusak kehidupan bersama? Apakah Saudara berlaku tidak jujur dalam pekerjaan atau profesi Saudara untuk menumpuk keuntungan bagi diri sendiri? Ketahuilah, bahwa dari contoh-contoh ini (yang masih bisa terus dikembangkan), finah, KDRT, rancangan jahat, dan ketidakjujuran tidak termasuk dalam, bahkan bertentangan secara frontal, dengan perbuatan-perbuatan besar dari Allah yang semestinya Saudara beritakan! Secara sederhana, jika Saudara sudah mengalami pemulihan Allah, mustinya Saudara akan memberitakan "perbuatan-perbuatan besar Allah" itu dengan melakukan semua hal yang menepis, menentang, dan mengikis fitnah, KDRT, rancangan kejahatan, dan ketidakjujuran. Semoga Allah sendiri menolong dan menguatkan kita agar kita masing-masing dapat mengucapkan syukur karena kita sudah mengalami pemulihan dari Allah, secara konkret dan terus menerus dalam hidup kita. (LHP) |