Media
PENGUMUMAN
| TUBUH KITA DALAM PERLINDUNGAN TUHAN |
| Kebaktian - Renungan |
|
Minggu, 25 September 2011
(Daniel 3 : 28 - 30)
Tidak pernah terbayangkan bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk dapat memperoleh kehidupan setelah mereka dimasukkan dalam dapur api yang menyala. Kesetiaannya untuk tetap teguh pada iman yang diyakini kepada Allah yang disembah dan menolak menyembah patung Raja Nebukadnezar bukan perkara mudah untuk dilakoni. Pergumulan berat berkaitan dengan iman yang mereka yakini tidak hanya sekedar kehilangan pekerjaan, kedudukan dan jabatan tetapi juga hidup yang mereka miliki dengan tubuh yang melekat pada dirinya. Di bawah takut akan Tuhan, ketiga orang muda itu mendapatkan kedudukan dalam jabatan pemerintahan. Mereka adalah orang-orang yang mampu menempatkan diri sebagai orang asing di negeri orang, menghargai dan menaruh hormat kepada pemimpin dan atasannya termasuk Nebukadnezar.
Penyembahan pada patung bagi ketiga orang muda itu merupakan masalah iman yang tidak dapat diterima begitu saja walau hanya sekedar sebagai syarat. Menyembah patung berarti menyamakan kedudukan buatan manusia setara dengan Allah yang memiliki kemahakuasaan. Penolakan Sadrakh, Mesakh dan Abednego bukan berarti mereka tidak loyal kepada atasan, namun hendak menunjukkan bahwa Nebukadnezar walau diagungkan dan ditinggikan bukanlah Allah. Nebukadnezar tetaplah manusia.
Kesaksian iman dengan penyerahan diri secara total kepada Allah telah menjadikan ketiga orang tidak menolak apa yang diterimanya sebagai hukuman. Saat dapur api dipersiapkan dan api terus menyala yang dibayangkan siapapun orang yang dimasukkan ke dalamnya tubuh mereka akan segera hancur dan segera menjadi abu. Perubahan besar terjadi, tontonan itu mengubahkan pernyataan iman bagi Nebukadnezar bahwa Allah yang disembah oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego adalah Allah yang Maha Kuasa, Allah yang layak untuk ditinggikan dan tidak sepantasnya dilecehkan oleh dirinya dan penduduk negeri.
Peristiwa itu mendatangkan pengakuan Nebukadnezarpun akan menindak tegas mereka yang melecehkan Allahnya orang percaya. Keberanian Sadrakh, Mesakh dan Abednego semestinya juga menjadikan kita sebagai orang-orang percaya yang tidak boleh menyembunyikan pengakuan iman kita dimanapun kita berada sekalipun kita mendapatkan tekanan dan mengalami pergumulan berat. Hidup dan mati kita milik Allah, semangat takut akan Tuhan menjadi hal penting dimanapun kita berada. Amin. (SRS) |