Calendar Rabu, September 17, 2014
Text Size
   
BERPERILAKU ADIL DAN JUJUR
Kebaktian - Renungan
Minggu, 19 September 2010
(Amos, 8 : 4 - 7; Lukas 16 : 1 - 13)

Amos 8:4-7 menegaskan kepada kita, bahwa Tuhan semesta alam adalah satu-satunya pemilik kehidupan ini, maka Tuhan menentang setiap ketidakadilan. Perilaku umat Israel yang tidak adil terhadap sesamanya yang dinyatakan dalam bentuk keserakahan, kelicikan, kecurangan, pemerasan dan kekejaman mengeksploitasi sesama yang miskin dan lemah itu mendatangkan murka Tuhan. Tuhan menentang dan murka kepada setiap umat yang berperilaku tidak adil dan tidak jujur terhadap sesamanya. "Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?" TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!" (Amos 8: 4-7).
Perumpamaan tentang Bendahara yang tidak jujur, yang dicatat dalam Lukas 16:1-13, sepertinya Tuhan Yesus memberi pujian kepada bendahara yang tidak jujur, namun sesungguhnya tidaklah demikian, jika kita memahami budaya jaman dahulu perihal pengelolaan uang. Pada jaman itu pemilik modal menyediakan uang dan diangkatnya bendahara untuk mengelola uang tersebut, supaya menghasilkan keuntungan. Karena itu bendahara yang dipercaya dan diangkatnya itulah yang menentukan tingkat besarnya keuntungan yang akan diserahkan kepada pemilik modal. Jika tidak mencapai besaran keuntungan yang ditentukannya, maka bendahara itu harus menanggung sepenuhnya kerugian itu, tetapi kalau dia berhasil memperoleh lebih dari yang ia tentukan, maka bendahara itu berhak sepenuhnya atas keuntungan itu.

Dalam perumpamaan ini masalahnya bendahara itu menghambur-hamburkan uang yang seharusnya dikelolanya, maka pemilik modal meminta pertanggungan jawab atas pengkelolaan uang itu. Apa yang dilakukan Bendahara itu? Ia mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Dengan mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya, bendahara itu kehilangan haknya untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya. Jadi sebenarnya Bendahara itu memotong hak keuntungan untuk dirinya dari pemotongan jumlah hutang dari para krediturnya, dengan demikian pada akhirnya bendahara tersebut mampu mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang telah dipercayakan kepadanya. Sebab uang yang menjadi hak dari pemilik modal itu tidak berkurang sedikitpun, maka dia tidak jadi dipecat dari jabatannya sebagai seorang bendahara yang dipercaya mengelola uang pemilik modal itu.

Sekalipun bendahara itu telah melakukan kesalahan besar, namun dia segera memperbaiki diri dengan memotong apa yang menjadi hak keuntungan pribadinya. Secara keuangan bendahara itu tidak memperoleh banyak keuntungan dari hak yang seharusnya dia terima, tetapi dia mampu mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan berperilaku adil dan jujur.
Relakah kita memotong Hak Pribadi kita? Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati. (TGH)



 
" Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, "

MazmurĀ  1 : 1