Media
PENGUMUMAN
| JEMAAT YANG DIUTUS |
| Kebaktian - Renungan |
Minggu, 29 Agustus 2010(Roma 12 : 1 - 2; Yakobus 1 : 26 - 27)
Pengertian kata diutus dalam ibadah Minggu seringkali memiliki makna yang sederhana bagi kebanyakan orang. Ada yang mengartikan, bahwa itulah bagian yang terakhir dari ibadah yang menyatu dengan berkat. Ada juga yang mengartikan, bahwa diutus tidak memiliki makna khusus, karena susunan liturgi sudah seperti itu. Bahkan mungkin ada yang berpikir diutus tidak memiliki makna apa-apa setelah ibadah selesai. Apakah kita juga mengartikan demikian? Bisa saja. Mengapa dapat dikatakan demikian? Seorang pemuda berkata, Ibadah adalah suatu kegiatan rutin yang hanya berlangsung pada hari Minggu. Seorang ibu berkata, Ibadah sebagai wadah untuk kita mendapat pengampunan dosa dari Tuhan. Seorang anak mengatakan, yang saya tahu setiap hari Minggu orangtua saya selalu memaksa saya untuk beribadah.
Dengan tegas Rasul Paulus memberikan makna yang dalam tentang Ibadah. Dikatakan: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Jika kita bertolak dari apa yang dinyatakan Paulus, kita akan sampai pada suatu pemahaman yang menuntun kita untuk memahami makna ibadah yang berjalan seiring dengan apa yang dapat kita persembahkan untuk Tuhan. Semakin dalam jika kita seiringkan dengan pengutusan yang dinyatakan dalam perjumpaan yang utuh dengan Allah dan jemaat-Nya. Perjumpaan itu tidak terbatas pada waktu, hari dan tempat. Perjumpaan dengan Tuhan dan jemaat-Nya memberi gerak yang hidup untuk kita melanjutkan ibadah yang terwujud dalam seluruh eksistensi kehidupan kita. Bahkan memberikan suatu ruang yang luas untuk kita mengisi sisi-sisi kehidupan sesama yang mencari dan berharap akan uluran Tangan Tuhan.
Dalam surat Yakobus semakin jelas dinyatakan, bahwa dampak kehidupan seorang yang beribadah adalah sanggup mengekang lidahnya, mengunjungi yatim-piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, menjaga supaya diri-sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yakobus 1:26,27). Pada bagian ini haruslah kita renungkan dalam-dalam, dapatkah dikatakan bahwa ibadah yang sejati telah kita wujudkan dalam relasi kita dengan Tuhan dan sesama? Sulit dijawab pertanyaan ini? Tidak apa jika demikian adanya, tapi di penghujung Perayaan Bulan Seni Gerejawi, Saudara dan saya tidak hanya ditanya kesediaannya, tapi DIUTUS untuk berbagi hidup dan berkat Tuhan yang telah diberikan cuma-cuma untuk kita. Diutus berarti, kita diminta untuk mengerjakan sesuatu yang berharga bagi orang lain, diutus bukan sekedar melakukan apa yang kita bisa, melainkan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Diutus untuk menjadi bagian dalam hidup orang lain, bukanlah kesempatan yang lewat begitu saja, tapi kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali dalam kehidupan kita.
"...tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi..." (Yeremia 1:7)
Selamat Hari Minggu, Tuhan memberkati. (LZT) |
