Media
PENGUMUMAN
| MEMIHAK KEPADA APA YANG TIDAK DAPAT DIGONCANGKAN |
| Kebaktian - Renungan |
Minggu, 22 Agustus 2010(Lukas 13 : 10 - 17)
Dalam Dian Penuntun Edisi 10 diceritakan sebuah kisah tentang Supermodel Petra Nemcova. Pada akhir tahun 2004, Petra Nemcova berlibur ke Phuket Thailand, tiba-tiba tsunami datang menghempaskan dan menenggelamkan orang, mobil, rumah dan segala sesuatu. Petra Nemcova berhasil meraih dan berpegang erat-erat di puncak salah satu pohon selama 8 jam. Ia berkata, "Saya mendengar suara anak-anak yang menjerit dari segala penjuru, 'tolong,tolong'. Sesudah beberapa menit, saya tidak mendengar lagi jeritan anak-anak itu. Semua tersapu tsunami". Petra Nemcova selamat karena ia berpegang kepada apa yang tidak dapat digoncangkan.
Tema Kebaktian hari ini ingin menegaskan, bahwa segala yang ada di alam semesta ini termasuk Sabat dan ritual dapat digoncangkan, hanyalah Allah dan hal-hal spiritual kekal yang terkait kepada-Nya yang tinggal tetap dan tidak dapat digoncangkan.
Lukas 13:10-17, berbicara tentang bagaimana kita memihak kepada Apa yang tidak dapat digoncangkan. Tuhan Yesus mewujud-nyatakan kehendak Allah dalam praktek keagamaan (ritual dan Sabat) dengan membuat tegak mereka yang tidak dapat berdiri tegak.
Perempuan yang tidak disebut namanya itu mengalami sakit selama 18 tahun sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak, berada dalam tempat yang kudus pada hari Sabat yang kudus itu dianggap tidak ada artinya bagi semua orang disitu, sebab bagi mereka yang sangat berarti sinagoge yang kudus dan hari Sabat. Bagi Yesus perempuan ini berarti dan bersifat kudus, karena ia keturunan Abraham (Lukas 13:16), oleh karena itu Yesus menyembuhkannya pada hari Sabat yang kudus, di Sinagoge yang kudus. Penyembuhan itu membawa dampak yang besar bagi perempuan itu, ia dapat tegak dan memuliakan Allah (Lukas 13:13), namun sebaliknya membawa kegusaran bagi Kepala Sinagoge yang menjaga disiplin hari Sabat dan "kekudusan Sinagoge". Perempuan itu telah sakit 18 tahun, jadi apa salahnya menunggu 1 atau 2 hari lagi untuk disembuhkan, tanpa harus melanggar Disiplin Sabat, dan dilakukan bukan di Sinagoge. Bagi Yesus perempuan yang tidak berdiri tegak sama kudusnya dengan Sinagoge dan Sabat, sebab ia keturunan Abraham dan atas dirinya berlaku janji-janji hebat Allah pada Abraham. Perempuan itu sungguh bernilai, karena ia adalah keturunan dalam umat Allah yang Allah janjikan.
Lukas 13:10-17, menyampaikan pesan yang penting, bahwa Yesus menghendaki agar kita konsisten dalam maksud mulia Allah ketika menghayati makna ibadah dan martabat manusia.
Apalah arti Ibadahmu, jika demi disiplin dan menjaga kekudusan, namun tidak lagi menghargai Tuhan Mahakudus sebagai pusat ibadah yang sesungguhnya, dan tidak dapat menghargai apa yang Tuhan hargai, serta tidak dapat memuliakan Tuhan dengan melaksanakan kehendakNya.
Selamat Hari Minggu Tuhan memberkati. (TGH) |
