Media
| TOBAT MENGEMBALIKAN MARTABAT |
| Kebaktian - Renungan |
|
Minggu Pra Paskah III, 7 Maret 2010
(Yesaya 55 : 1 - 9)
Yesaya 55:1-9 ditulis ketika umat Israel ada dalam pembuangan di Babel. Keadaan di Babel sudah menjadi bagian hidup sehari-hari umat Israel. Dalam waktu 40 tahun itu bukan saja umat Israel berubah, namun juga menyesuaikan diri dengan lingkungan Babel. Mereka tidak lagi hidup dalam ketergantungan dengan Allah nenek moyang mereka, sebaliknya Babel telah merubah cara pandang dan gaya hidup mereka. Umat Israel membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang bukan roti dan menghabiskan semua upah jerih payah mereka bukan untuk yang mengenyangkan (ayat 2). Umat Israel hidup dalam kesia-siaan, namun mereka tidak menyadari hal itu, bahkan mereka larut dalam kehidupan Babel yang sangat bertentangan dengan kehidupan sebagai umat Allah yang dikehendaki Tuhan. Kelihatannya mereka masih hidup sebagai umat Israel, tetapi sesungguhnya mereka telah mati, dan martabat sebagai umat pilihan Allah sudah menjadi puing-puing yang tidak berharga lagi .Melalui nabi Yesaya, Tuhan berulang kali mengajak umat Israel untuk kembali kepadaNya. Tetapi seruan Tuhan itu belum juga mendapatkan respon dari mereka, sebaliknya mereka tenggelam dalam kesenangan yang semu, bagaikan orang yang sedang minum air laut yang tidak akan melepaskan dahaga mereka. Tuhan menjanjikan air yang dapat melepaskan dahaga mereka (ayat 1).
Tuhan menghendaki umat Israel bertobat.
Tuhan menghendaki agar umat Israel kembali kepadaNya, dan meninggalkan kehidupan ala Babel yang berpusat pada ego dengan menghalalkan segala cara apapun, asal dapat memuaskan nafsunya.
"Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya". (Yesaya 55:7)
Jika panggilan pertobatan ini ditujukan pada generasi pertama yang datang ke Babel, sudah tentu akan direspon dengan penuh sukacita, namun panggilan pertobatan ini juga untuk generasi berikut yang sudah beradaptasi, bahkan sudah mapan dan nyaman dengan gaya hidup Babel. Mereka harus meninggalkan semua rasa nyaman dan kenikmatan Babel untuk kembali ke Yerusalem. Yerusalem yang sudah hancur dalam puing-puing reruntuhan itu dibangun kembali dengan sikap hidup yang bergantung dan bersandar kepada Tuhan.
Pengalaman di pembuangan dapat menjadi dasar untuk hidup bergantung pada Tuhan. Melalui seluruh proses pembuangan ke Babel, diharapkan mereka dapat mengenal Tuhan Allah seperti apa yang mereka miliki. Tuhan Allah yang jalan dan rancanganNya tidak seperti jalan dan rancangan manusia. Tuhan yang memberikan kesempatan untuk mereka mendapatkan pengampunan dan penuh kasih setia memimpin mereka menjadi umat pilihanNya yang berharga dan bermartabat.
"Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" (Yesaya 55:6)
.
Selamat Hari Minggu, Tuhan memberkati. (TGH) |

