MENGHAYATI SIKAP HATI SEORANG HAMBA
Kebaktian - Renungan
Minggu Palem, 28 Maret 2010
(Lukas 19 : 28 - 44)

Dunia mendefinisikan kebesaran dari segi kuasa,
harta, martabat dan kedudukan.
Jika anda bisa menuntut pelayanan dari orang lain,
berarti anda telah mencapai keberhasilan.
Namun, Tuhan Yesus mengukur kebesaran dari segi pelayanan, bukan status!
Allah menentukan kebesaran anda
berdasarkan banyaknya orang yang anda layani,
bukan berdasarkan banyaknya orang yang melayani anda.
Menjadi serupa dengan Kristus berarti menjadi seorang pelayan
(Dalam Kalender Renungan The Purpose Driven Life Rick Warren)

Bagaimana dengan kita, Jemaat yang terkasih ? Apakah dalam hidup yang Allah anugerahkan kepada kita sampai saat ini, kita terus berada dalam proses pembentukan diri menjadi serupa dengan Kristus. Keserupaan yang ditentukan dengan kerelaan diri dalam ketaatan penuh untuk menjadi seorang pelayan. Sebagaimana tema di Minggu Palem ini dibahasakan dengan menghayati sikap seorang hamba.
Istilah pelayan atau hamba dalam dunia Kristen adalah istilah yang bermakna positif. Ketika Tuhan Yesus sendiri berpesan agar kita saling melayani, maka itu berarti setiap orang yang percaya adalah seorang pelayan Tuhan. "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu... Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani" (Markus 10:34-35). Menghayati sikap seorang hamba? Apakah mungkin kita menjadi hamba bagi sesama? Kata hamba berasal dari kata doulos yang dalam bahasa Yunani bermakna sebagai budak. Seorang budak adalah seorang yang tidak punya hak sama sekali, bahkan untuk dirinya sendiri. Karena itu seorang budak sebenarnya adalah manusia yang kehilangan kemanusiaan-nya.

Peran Mesianik Yesus sungguh menjadi penghayatan yang memberikan teladan lebih dahulu kepada kita selaku para murid-Nya. Sungguh merupakan pilihan yang radikal, ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, Dia dirajakan namun tidak lama kemudian harus menderita dan mengorbankan nyawa untuk keselamatan manusia dengan mati disalibkan. Betapa penghayatan diri sebagai hamba itu sungguh sangat nyata dalam pelayanan bagi umat manusia berdosa. Yesus dengan rela mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Keagungan-Nya dilepaskan untuk menjadi manusia yang terendah. Yesus sungguh menampakkan bentuk ketaatan diri yang radikal sebagai seorang hamba. Maka kitapun senantiasa belajar meneladani apa yang telah dinampakan-Nya dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini sebagai apa saja, di mana dan kapan saja ketika hidup dalam kebersamaan dengan sesama.

Bersama dengan para penatua yang menyelesaikan masa pelayanannya, biarlah terus hidup dalam penghayatan diri yang menyatakan sikap hati seorang hamba. Demikian juga bagi setiap pribadi yang boleh Tuhan persiapkan melayani sebagai penatua, kita terus bersama-sama sebagai hamba-hamba-Nya hidup dalam penghayatan terus untuk bersikap sebagai seorang hamba bagi sesama dalam pelayanan yang menyatakan Kristus bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Selamat melayani. Tuhan memberkati pelayanan kita bersama. Amin! (WIT)
 
" Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. "

Ayub  5 : 17