PENGUMUMAN
| BPMS : Laporan dari Uniting General Council (Artikel 10) |
| GKI - Info Umum |
|
Catatan Redaksi:
Ini adalah Artikel Kesepuluh dari 15 Artikel
Laporan dari Uniting General Council (Sidang Raya Penyatuan)
World Communion of Reformed Churches (WCRC)
PEMBERDAYAAN PEMUDA
"Siapa sih pemuda itu?"
"Apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemuda?"
"Apa saja yang dapat diberikan oleh seorang pemuda?"
"Apa gunanya melibatkan pemuda?"
"Apa makna menjadi seorang pemuda?"
"Apa dampak adanya seorang pemuda bagi sebuah komunitas (Gereja termasuk di dalamnya) untuk bertumbuh dan berkembang?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti diatas mungkin menjadi pertanyaan yang biasa kita dengar sehari-hari yang ditanyakan oleh orang-orang dewasa tentang pemuda. Namun, ternyata bukan hanya orang dewasa yang mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak kaum muda sendiri mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Mereka seakan tidak tahu mau kemana, tidak tahu jati diri mereka (baik sebagai individu, maupun sebagai bagian dari gereja reformed) apa potensi mereka, dan bahkan tidak tahu mau membawa hidup ke mana.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Pemuda dianggap tidak tahu banyak, tidak berpengalaman, hadir dengan idealisme tanpa mampu merealisasikan yang ideal itu. Banyak kalangan dewasa menganggap remeh keberadaan seorang pemuda. Banyak pemuda tidak mendapat tempat dalam keluarga, masyarakat, atau dimanapun mereka berada, pun bila mereka mendapatkan tempat, maka tempat itu akan menjadi tempat yang terakhir karena tidak ada lagi yang mau mengambil tempat itu (walau tak semua orang dewasa demikian dalam memperlakukan orang muda). Banyak dari mereka, kaum pemuda khususnya di negara-negara Asia, Afrika, merasa tidak didengar, merasa diabaikan, tidak diterima, tidak dimengerti dan tidak dilibatkan. Hasilnya? Mereka merasa tidak berharga, tidak berguna, tidak dapat memberi padahal sesungguhnya mereka memiliki banyak potensi untuk memberi.
Tapi masalah eksistensi kaum muda tidak berhenti samapi di situ, karena bagi seorang pemuda, untuk mendapat tempat, perhatian dan penerimaan yang baik dari komunitasnya, ia harus mampu menunjukkan apa yang mampu diberikannya. Dan untuk dapat menunjukkan siapa dirinya, apa saja yang dapat ia berikan kepada komunitas, seorang pemuda harus mendapatkan kesempatan dari komunitas tersebut untuk membuktikan bahwa dia mampu. Namun, layaknya lingkaran setan, kesempatanpun tidak didapatkanya, sehingga kembali, pemuda tidak mendapat tempat.
Untuk memecahkan persoalan dan menjawab tantangan kaum muda ini kita tidak dapat hanya berbicara dalam ranah pemuda dan mengabaikan proses yang terjadi ketika mereka berusia remaja atau bahkan dalam masa kanak-kanak. Karena siapa seseorang pada masa kini, tergantung pada refleksi secara terus menerus akan segala hal yang terjadi sepanjang hidupnya (Life Long Learning).
Dari refleksi yang berkesinambungan tersebutlah lahir kesadaran akan siapa dirinya, dan kreativitas untuk mengekspresikan siapa dirinya dalam komunitas. Kesadaran akan adanya dan perlunya proses berkesinambungan dalam diri seorang pemuda saja juga tidak cukup untuk menjadikan pemuda di dengar ataupun dilibatkan dalam berbagai hal. Oleh karena itu, baik pemuda maupun orang dewasa harus berkomitmen untuk saling memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk saling mengisi, menghargai dan menghormati keberadaan masing-masing, tanpa mendeskreditkan satu dengan yang lain, bahkan menciptakan aktivitas bersama demi terjalinya sebuah kerja sama yang dinamis.
PEMUDA DAN PEMBAHARUAN
Seksi Pemberdayaan Kaum muda secara konsisten memandang kaum muda tidak berdasar kepada batasan usia, namun kepada peran yang dijalankannya dalam dunia gereja-gereja reformed. Siapakah pemuda itu? Pemuda memiliki karakteristik tertentu, dimana mereka adalah generasi yang memiliki tingkat antusiasme, memiliki keinginan untuk mengeksplorasi diri, dan memiliki kebutuhan pemenuhan diri yang tinggi. Mereka diperhadapkan dengan berbagai polemik sosial, politik, trend yang menggambarkan mereka sebagai generasi yang berbahaya, tanpa moral, dan mengalami dilema spiritualitas yang didalamnya termasuk pemberian stereotipe dan marjinalisasi. Seksi Pemuda memberikan dukungan dan menyarankan beberapa aspek seperti kepemimpinan, pembinaan serta pemeliharaan spiritual menjadi bagian dalam pelayanan terhadap kaum muda oleh gereja.
Pemuda hanya bisa menjadi pemimpin masa depan jika mereka menjadi pemimpin sejati hari ini. Seksi Pemuda mengakui kurangnya penjabaran latar belakang teologis mengenai posisi pemuda dalam masyarakat. Masalah tersebut digambarkan dengan adanya pemahaman umum namun ambigu berkenaan dengan istilah "Pemuda" yang tanpa disadari telah mengesampingkan bahkan menghilangkan peran seorang pemuda dalam komunitas sosial , dimana ia terlibat di dalamnya.
Seksi Pemuda menyadari adanya kekurangan bahkan ketidakadaan pengembangan dan penjelasan teologi berkenaan dengan panggilan menjadi seorang pemuda sebagai seorang pemimpin yang sah dalam badan gereja dan dalam berbagai bidang pelayanan yang ada. Mereka hanya ada sebagai penerima pasif dari iman mereka. Oleh karena itu Seksi Pemuda menjunjung tinggi pentingnya diskusi yang hidup dan terbuka serta refleksi kritis atas dasar teologi tentang pemuda dan serta pengaruhnya pada pembuatan program-program pemuda dan pelayan bagi para pemuda gereja.
PEMUDA DAN MISI
Seksi Pemuda terpanggil untuk dapat memenuhi keterwakilan pemuda dan kepemimpinannya dalam badan WCRC. Untuk itu, demi mendapatkan definisi dan penjelasan tentang siapakah seorang pemuda dan posisinya dalam komunitas sosialnya perlu diadakan diskusi teologis yang kritis. Dengan begitu kami dimungkinkan untuk menemukan landasan yang mengarah ke perwakilan yang memadai dalam WCRC yang adalah sebuah badan yang tepat untuk mempertahankan kesadaran tentang sejarah lokal, jaringan regional dan global dan keuntungan dari belajar dari sejarah ini.
Seksi Pemuda mengakui berbagai macam program yang dilakukan berkaitan dengan pemberdayaan pemuda oleh WARC dan REC sebagai salah satu kemajuan yang signifikan. Namun melihat kegagalan dua badan ini untuk menciptakan ruang yang cukup bagi para pemuda-pemuda dari gereja reformed di seluruh dunia, Seksi Pemuda menilai pemuda sebagai investasi yang berharga dan tak pelak dapat menjadi tokoh masyarakat yang membuka pintu kepada keadilan dalam masyarakat itu sendiri. Investasi ini hanya dapat diciptakan melalui rekonfigurasi sosial, ekonomi, dan sumber daya sistem WCRC. Seorang pemuda yang memiliki kemampuan maksimal dapat dibentuk melalui pemberian tanggung jawab sosial yang mengakui pemuda sebagai pemimpin gereja cerdas, otonom dan mampu melakukan banyak hal.
REKOMENDASI
1. Memberi ruang komuniasi dan memperbaharui persekutuan pada aras lokal, regional dan global bagi pemuda di WCRC Update Newsletter. Ruang ini akan digunakan untuk memberdayakan pemuda, dan sebagai sarana menyampaikan keprihatinan pemuda dalam isu-isu sosial dan politik WCRC. Secara khusus, ruang ini memungkinkan dan memberikan kesempatan bagi pemuda untuk terlibat dalam dan menjadi bagian dari WCRC.
2. Pembentukan Dana Pemuda, dimulai oleh WCRC, yang kemudian didukung oleh Jaringan regional. Sebuah kontribusi awal dari WCRC untuk melakukan investasi yang didukung oleh forum regional menunjukkan komitmen bagi jaringan-jaringan pemuda daerah. Masing-masing koordinator regional akan mengatur proyek-proyek dalam aras lokal yang memang dibuat dan diperuntukkan secara khususn bagi jarigan pemuda di daerah masing-masing dengan dukungan dana ini. Koordinator pemuda dalam aras regional adalah sukarelawan yang memiliki gairah untuk bekerja dan mendukung proyek-proyek pemuda regionaldalam rangka mempromosikan gerakkan pemuda aktif dalam jejaringan regional.
3. Persyaratan minimum untuk delegasi pemuda kepada Komite Eksekutif harus tidak kurang dari empat orang. daerah dengan tiga atau lebih calon harus terdiri paling tidak dari satu laki-laki dan satu perempuan, satu orang muda di bawah 30. Selain itu, dalam komite pencalonan terdiri dari setidaknya satu orang muda di bawah 30 untuk dipilih sebagai dewan Presidium. WCRC dalam perjalanannya harus menjamin penyertaan dan partisipasi pemuda dalam program yang secara eksplisit melibatkan dan mempengaruhi anak muda.
DAMPAK BAGI GKI
Pertanyaan pertama yang untuk melihat signifikansi keterlibatan GKI dalam badan dunia baru ini adalah "Adakah GKI memiliki perhatian kepada generasi muda gerejanya?" Dalam aras lokal, menurut pendapat saya pribadi, banyak gereja-gereja lokal tidak memberi perhatian kepada komisi pemudanya. Entah karena merasa komisi pemuda kurang begitu penting, atau karena merasa, adalah sesuatu yang wajar bila keterlibatan jemaat pemuda di kota besar seperti Jakarta menurun dari waktu ke waktu karena meningkatnya kesibukan kaula muda kota.
Namun keterlibatan pemuda dalam gereja adalah sesuatu yang sangat penting. Pemuda adalah penggerak, pengubah, bukan hanya penonton. Pemuda juga adalah generasi mendatang dari sebuah gereja. Bila gereja tidak memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka, tidak memberikan tempat bagi mereka yang potensial (bukan hanya sekedar nampak potensial), dan tidak memberdayakan mereka dengan idealismenya, maka gereja, perlahan tapi pasti akan kehilangan masa depannya. Dalam jangka waktu 30 tahun ke depan gereja akan dipenuhi oleh lansia saja, dan kaum muda hilang mencari kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh gereja di dalam dunia kerja, dan berbagai tempat hiburan.
TANTANGAN BAGI GKI
● Dengan semangat memberdayakan, bukan memperdayai, Gereja Kristen Indonesia tertantang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pemuda akan eksistensi, namun lebih dari itu tertantang untuk memacu, dan membekali kaum muda dengan ilmu-ilmu kepemimpinan.
● GKI ditantang untuk menjadi wadah dalam memberikan solusi, (bukan menghakimi) berkaitan dengan banyaknya persoalan dan pergumulan yang harus dihadapi mereka sebagai pemuda Indonesia, yang antara lain adalah kualitas pendidikan dan yang buruk. Dapatkah GKI dan Badan Pendidikannya (BPK PENABUR, UKRIDA) memberikan pendidikan yang baik, yang tidak hanya mengedepankan ilmu, pencapaian nilai sempurna, dan segala sesuatu yang dipusatkan kepada materialisme. Namun terutama, nilai-nilai dari proses hidup, kemampuan untuk mengembangkan dan menciptakan sesuatu, keterampilan untuk memberi bukan hanya diberi, kepekaan untuk menolong yang lemah, bukan menghakimi atau menjauhi, dan terutama life skill (kemampuan beradaptasi, menjadi pribadi yang mandiri bukan egois dan individualis, kemampuan mengatasi masa-masa sulit, tantangan dan kondisi yang tidak ideal). |