PENGUMUMAN
| LITURGI MINGGU GKI |
| GKI - Info Umum |
LITURGI MINGGU GKI"Di tengah pertanyaan-pertanyaan yang berkembang
dan mengganggu, mengapa ini boleh dan itu tidak boleh
kenapa di sana boleh, di sini tidak boleh"
Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru termasuk dalam rumpun Gereja-gereja Reformasi, yang bersemboyan: SOLA FIDE (hanya dengan Iman), SOLA GRACIA (hanya oleh Anugerah), SOLA SCRIPTURA (hanya Firman Allah). Oleh karena itu, dalam Ibadah Minggu, GKI mempunyai tradisi Gereja-gereja Calvin yang pada mulanya mengupayakan:
1. Peniadaan semua patung dan simbol-simbol relegius
2. Pembacaan Alkitab dan khotbah dengan bahasa yang biasa dipakai Jemaat sebagai hal yang sentral dalam Ibadah,
3. Mengeleminir ritual dan upacara yang tidak Alkitabiah,
4. Menyingkirkan alat-alat musik dan mengintrodusir Nyanyian Mazmur,
5. Memulihkan firman Allah, Injil Kristus dan Perjumpaan dengan Allah sebagai pusat Ibadah.
Ibadah Jemaat (baca: Kebaktian Minggu) tidaklah sama dengan ibadah kafir atau suatu pertunjukan, ia terutama harus merupakan suatu persekutuan untuk kepentingan Tuhan, ia bukan reality show atau entertainment yang dikemas sedemikian rupa untuk memuaskan umat, sebaliknya umat bekerja sama untuk menyenangkan hati Tuhan. Dalam ibadah, tiap orang harus terlibat aktif, umat tidak boleh menjadi pendengar pasif (a passive audience) mereka berpartisipasi dalam menyanyi, berdoa, dan mengaku iman. Dan untuk itulah dibuat Liturgi (pengaturan ibadah) atau juga disebut Tata Ibadah.
Ada anggapan bahwa Ibadah merupakan Perjumpaan yang hidup antara Kristus dan umat-Nya, yang melalui ‘lawatan' Roh Kudus dalam pelbagai manivestasinya, sehingga ‘hadirat Allah' dirasakan secara nyata, sehingga pola liturgi yang baku dan teratur ditolak, karena dianggap mematikan spontanitas, bahkan lebih daripada itu dianggap sebagai penghalang ‘Roh Kudus bekerja dengan leluasa', dan memberikan tempat seluas-luasnya untuk emosi dan spontanitas.
Gereja Kristen Indonesia (GKI) termasuk Gereja Reformasi, memiliki pemahaman yang berbeda tentang ‘perjumpaan yang hidup' dalam ibadah jemaat, karena perjumpaan yang hidup terjadi sebagai dialog antara Tuhan dengan umat, dimana Tuhan berbicara kepada umat melalui firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, lalu umat merespon dengan berbagai cara seperti: menyanyi, berdoa, mengaku iman, memberikan persembahan dan lain-lain. Suatu dialog yang harus berlangsung rational, sistimatis dan berfokus pada pokok pembicaraan tertentu. Katakanlah, suasana Ibadah yang justru dibuat khusuk, agar umat dapat lebih berkonsentrasi mendengarkan firman Tuhan.
Pemakaian ritual-ritual yang sama setiap minggu, tidaklah menciptakan ritualisme bahkan melalui Liturgi (penggunaan ritual yang sama) membuat umat merasa akrab (familiar) dengan ritus-ritus itu, sehingga mereka tidak merasa resah ketika beribadah.
Dengan mengulang ritus-ritus yang sama dari minggu ke minggu, justru umat akan memiliki kompetensi ritual (ritual competence) sehingga dapat menguasainya agar menyatu dengan diri dan membentuk gaya ibadah mereka dan gaya hidup mereka sehari-hari (Roma 12:1).
Banyak orang memandang dan mengusahakan Ibadah seperti pertunjukan teater, Aktornya adalah para pelayan Ibadah. Sutradaranya Pendeta, dan umat menjadi penontonnya. Ini suatu pemahaman yang keliru. Sebaliknya pemahaman GKI adalah bahwa: Aktornya adalah umat yang beribadah. Sutradaranya adalah para pelayan (pendeta, penatua, cantoria, liturgos, pemusik, dll) dan penontonnya adalah Tuhan! Tata ibadah adalah ‘skenario' drama keselamatan yang harus dimainkan oleh umat.
Liturgi GKI mengacu pada 4 (empat) bagian, yaitu:
1. Jemaat berhimpun
2. Tuhan berfirman
3. Jemaat bersyukur
4. Jemaat diutus.
GKI Kebayoran Baru adalah Gereja Protestan dalam rumpun Reformasi, bukan dan tidak pernah mempunyai tradisi dari Gereja-gereja denominasi lain.
Majelis Jemaat dipercayakan dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan Ibadah Minggu Jemaat, dan oleh karena itu maka Sinode GKI menetapkan Tata Ibadah Minggu bagi semua Jemaat GKI untuk diberlakukan. |
