Media
| ALLAH MENYEDIAKAN ANUGERAH BAGI YANG MENCARINYA |
| Ditulis oleh Administrator |
|
Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus,yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. (Ef. 3:4-6) Anugerah!!! Sebuah kata yang sering kita dengar. Saya mendefinisikan kata anugerah sebagai sesuatu pemberian yang gratis atau cuma-cuma dari Allah. Anugerah itu bisa berupa keselamatan, kesejahteraan, kesukacitaan, kedamaian, kebahagiaan, dan masih banyak lagi. Semua anugerah tadi itu bersifat gratis dari Allah. Artinya, Allah memberikan anugerah-anugerah itu kepada setiap orang tanpa imbalan atau ganti rugi. Selain itu semua anugerah itu diberikan kepada semua orang tanpa batasan dan kecuali. Anugerah tidak diberikan kepada orang-orang tertentu saja, tetapi untuk semua orang. Manusia hanya tinggal menerimanya saja. Sampai di sini semuanya terlihat sangat mudah dan sederhana. Tidak sulit untuk kita terima dan mengerti. Namun ironisnya, hal ini ternyata sering kali tidak menjadi mudah pada kenyataannya, terutama pada saat ini. Anugerah yang seharusnya mudah diperoleh oleh setiap orang justru menjadi tidak mudah. Seolah-olah anugerah itu tidak lagi menjadi gratis, namun semuanya penuh dengan batasan dan persyaratan. Lebih membingungkan lagi adalah ketika banyak orang yang mengklaim mendapatkan anugerah keselamatan, namun pada saat yang sama sekaligus membatasi keselamatan untuk orang lain. Ada orang yang mengaku memperoleh kebahagiaan namun pada saat yang sama membuat orang lain tidak bahagia. Ironis !!! Justru manusialah yang seolah-olah berhak memutuskan dan menentukan siapa yang pantas untuk mendapatkan keselamatan. Sebagai contoh: issue rasialisme, sukuisme, nasionalisme sempit, fanatisme agama, dsb. Hal-hal inilah yang saya maksudkan tadi. Manusia justru membuat batasan dan tembok-tembok itu sendiri. Karena alasan keyakinan, manusia merasa berhak membatasi keselamatan bagi orang lain. Karena warna kulit, manusia seolah-olah membuat nilai bahwa ada warna kulit yang lebih baik dari warna kulit yang lain. Karena perbedaan suku, seolah-olah ada suku yang lebih tinggi dan lebih rendah daripada yang lain. Karena perbedaan politik, orang merasa berhak untuk merendahkan dan mendiskreditkan orang lain. Sikap inilah yang juga sering disebut sebagai primordalisme. Primordialisme!!!! Siapa dari kita yang tidak pernah mendengar istilah ini... sebuah istilah yang sering dipakai untuk menyebut sikap yang katanya "cenderung untuk selalu melihat segala sesuatu dari subjektifitas diri atau asal muasalnya". Di satu sisi sebenarnya hal ini bermaksud baik yaitu mempertahankan identitas, namun di sisi lain justru menjadi negatif bahkan merusak... Kenapa saya mengatakan demikian? Bayangkan saja akibat yang ditimbulkan akibat tembok-tembok itu, hubungan manusia menjadi tidak wajar, orang lain akan selalu ditempatkan sebagai outsider (orang luar), bahkan sebagai ancaman. Sukuisme, rasialisme, nasionalisme sempit, fanatisme agama, dan lain sebagainya adalah contoh-contoh dari primordialisme itu. Di satu sisi primodialisme adalah suatu sikap yang baik, yaitu untuk melestarikan budaya atau identitas kelompoknya, tetapi jika sikap primordialisme ini berubah menjadi sempit dan negatif (Etnosentrisme) maka tentulah ini akan menjadi buruk dan sangat berbahaya. Pintu rahmat dan anugerah Allah untuk semua orang justru ditutup kembali oleh manusia dan dikunci rapat. Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah, apakah kita juga sering menjadi bagian di dalamnya? Sebagai korban, mungkin kita sudah sering mengalaminya. Namun, pertanyaan yang perlu kita renungkan lebih mendalam adalah, apakah kita justru juga sering menjadi pelaku di dalamnya? Apakah kita juga sering membangun tembok-tembok sehingga anugerah yang Allah yang gratis dan cuma-cuma itu tidak lagi menjadi gratis dan cuma-cuma bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah karena kita, anugerah yang seharusnya bisa dinikmati oleh banyak orang justru berubah menjadi sesuatu yang membuat orang lain menjadi susah dan menderita? Hal ini bisa kita renungkan berdasarkan Nas Alkitab dari Efesus 3:1-12. Dalam teks Alkitab itu diceritakan bahwa saat itu Paulus sedang dipenjara di Roma dan sedang menunggu pemeriksaan pengadilan untuk dirinya di hadapan Kaisar Nero (Kis. 23:23-35). Suatu keadaan yang sangat tidak nyaman tentunya. Namun, Paulus justru menunjukkan kesungguhannya untuk terus setia dalam pekerjaan pemberitaan Injil yang dipercayakan Tuhan kepadanya (Kis. 9:15). Dalam bagian Alkitab ini Paulus kembali kepada pemikiran yang menjadi inti surat ini. Ia telah menerima wahyu mengenai rahasia Allah yang besar di dalam hidupnya. Rahasia itu ialah bahwa kasih karunia dan damai sejahtera Allah itu tidak hanya diperuntukkan bagi orang Yahudi saja, tetapi untuk seluruh umat manusia. (William Barclay, Pemahaman Alkitab Sehari-hari Galatia-Efesus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, hlm.182-183). Hal ini tentu saja merupakan hal baru dan sama sekali berbeda dengan pemahaman orang Yahudi pada saat itu mengenai konsep keselamatan. Namun ketika Paulus menyampakan hal ini, tentunya kita tidak dapat melepaskan kaitannya dengan pengalaman rohani Paulus yang telah memutarbalikkan jalan hidupnya. Kita bisa membaca pengalaman rohani Paulus itu secara detail dalam Kisah Para Rasul 9. Yang jelas adalah, bahwa Paulus menyadari tentang keberadaan dirinya dahulu sebelum Tuhan "menangkap" dirinya. Dahulu dia adalah seorang "outsider" bagi rencana Allah. Tidak saja karena dia tidak percaya kepada Kristus, namun karena ia juga menjadi penganiaya yang kejam bagi orang-orang Kristen di sekitar wilayah Yerusalem pada saat itu. Namun, ketika Tuhan menemuinya di jalan menuju Damsyik itu, Paulus sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah salah. Meskipun demikian, Tuhan justru memberikan anugerah keselamatan kepada Paulus. Sejak saat itulah Paulus bukan lagi seorang outsider, malahan dia berubah menjadi seorang yang sangat gigih dan berani memberikan Injil. Ia melakukan itu semua karena ia menyadari sepenuhnya bahwa dia adalah orang yang telah mendapat anugerah keselamatan dari Allah, dan karena itu jugalah ia menginginkan supaya semua orang juga mendapatkan keselamatan itu. Itu sebabnya ia menyampaikan suatu hal yang sangat penting dalam bagian ini, yakni tentang berita (wahyu rahasia) mengenai "Universalitas anugerah Allah". Allah menyediakan anugerah untuk Israel dan bangsa-bangsa lain, untuk umat yang mencari-Nya, dan selanjutnya melalui umat, pintu anugerah dibuka bagi siapa saja yang mencari-Nya. Dalam perikop sebelumnya yakni dalam Efesus 2:11-22, hal ini semakin dikuatkan bahwa di dalam Kristus, tidak ada lagi perbedaan apakah kita "jauh" atau "dekat". Di dalam Kristus kita beroleh masuk kepada Bapa. Karena Kristus, kita semua telah menjadi ahli waris, anggota tubuh dan peserta dalam janji keselamatan yang diberikan (Ef. 3:6). Hal ini sungguh menjadi berita yang memberikan kita penghiburan, keyakinan dan kekuatan iman. Tentunya hal ini juga mendekonstruksi pemahaman kita yang mungkin kurang tepat selama ini. Sangat tepat juga menurut saya jika hal ini kita renungkan dalam kaitannya dengan minggu-minggu Epifania (Menurut kalender gerejawi) selama bulan Januari 2009 ini. Kenapa? Karena Epifania itu sendiri berarti perayaan penampakan Tuhan Yesus di dunia. Yesus menampakkan diri-Nya tidak hanya untuk sebagian orang atau hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi Ia menampakkan diri-Nya kepada semua orang termasuk kita semua. Itulah yang kita rayakan dalam minggu-minggu Epifania ini. Anugerah, menurut saya juga adalah bagian dari apa yang kita rayakan dalam minggu Epifania ini. Sebagai orang yang sudah menerima anugerah yang begitu banyak dari Tuhan, sudah sepatutnya kita mensyukuri hal itu. Itu adalah sikap yang pertama. Sikap berikut yang harus kita lakukan adalah "mengkondisikan" agar anugerah Allah itu juga bisa dirasakan dan diperoleh oleh banyak orang, baik yang dekat maupun yang jauh dari kita. Kita pun harus menjadi pintu anugerah bagi orang yang mencari anugerah itu. Jika Allah yang Transenden itu saja sudah memberikan anugerahNya kepada kita dengan cuma-cuma, maka kita pun wajib melakukan hal yang sama dengan itu. Sikap kongkret yang bisa kita lakukan berkaitan dengan renungan ini antara lain adalah bahwa kita diharapkan menjadi pribadi yang tidak bersikap rasialis, tidak bersikap sukuisme, tidak memiliki pendangan nasionalisme yang sempit, tidak memiliki paham fanatisme agama yang sempit, dan lain sebagainya. Atau mungkin hal yang sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari baik di rumah, kantor, masyarakat, dan gereja. Janganlah kiranya kita menjadi orang yang suka merendahkan orang lain dari status pendidikan, ekonomi, sosial, perkawinan, fisik dan sebagainya. Hendaklah sikap-sikap seperti ini tidak nampak dalam keseharian kita sebagai orang Kristen. Pada akhirnya hanya ada dua kesimpulan yang ingin saya sampaikan sebagai penutup tulisan ini yakni: pertama, bahwa Allah memberikan anugerah kepada siapa saja yang mencari-Nya. Yang kedua, bahwa Allah menginginkan kita menjadi jalan pembuka pintu anugerah bagi sesamanya. Tuhan memberkati! Luther Novryaman Lase |

